
TANAHAIRNEWS.COM, Merauke – Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Papua terus menunjukkan hasil nyata. Melalui pemanfaatan lahan milik masyarakat yang dikelola dengan dukungan pemerintah, program ini berhasil meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat adat di Papua.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pembangunan pertanian di Papua bertujuan membangun kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, kebutuhan pangan masyarakat Papua harus dipenuhi dari hasil produksi daerah sendiri dengan tetap mengembangkan potensi pangan lokal.
“Kita ingin membangun kemandirian pangan di seluruh pulau, termasuk Papua. Pangan untuk saudara-saudara kita di Papua harus dipenuhi dari Papua sendiri. Beras, sagu, ubi, dan pangan lokal lainnya harus kita kembangkan bersama masyarakat setempat,” kata Mentan Amran.
Mentan Amran menegaskan bahwa program Cetak Sawah Rakyat bukan merupakan pengambilalihan lahan masyarakat. Sebaliknya, pemerintah hadir membantu masyarakat adat mengoptimalkan lahan yang mereka miliki melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), pembangunan irigasi, benih unggul, serta pendampingan teknologi budidaya.
“Ini adalah tanah masyarakat. Kita bantu dengan traktor, irigasi, benih gratis, dan teknologi. Tujuannya agar saudara-saudara kita di Papua semakin sejahtera dan mampu memproduksi pangan untuk daerahnya sendiri,” ujarnya.
Berbagai dukungan tersebut mulai menunjukkan hasil. Produktivitas lahan yang sebelumnya sekitar 3 ton gabah per hektare kini meningkat hingga sekitar 7 ton per hektare. Intensitas tanam yang semula hanya satu kali dalam setahun juga meningkat menjadi hingga tiga kali tanam, sehingga produksi dan pendapatan petani terus bertambah.
Menurut Mentan Amran, peningkatan produktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat Papua.
“Kalau kita tidak membangun dari sekarang, sementara penduduk terus bertambah, kebutuhan pangan dipenuhi dari mana? Karena itu kita bangun untuk keberlanjutan Republik ini dan untuk kesejahteraan saudara-saudara kita di Papua,” kata Amran.
Manfaat program tersebut juga dirasakan langsung oleh masyarakat adat. Pemilik hak ulayat di Merauke, Hermannus Mahuse, mengatakan kondisi di lapangan tidak seperti berbagai narasi yang berkembang di luar Papua. Menurutnya, masyarakat tetap memiliki dan mengelola lahannya sendiri, sementara pemerintah memberikan dukungan agar lahan tersebut menjadi lebih produktif.
“Jadi pemerintah bukan buka hutan terus ambil tanahnya, tidak. Pemerintah membantu membuka lahan kami untuk kami sendiri yang kelola, kami sendiri yang menikmati hasilnya,” tegas Hermannus.
Ia mengatakan bantuan Cetak Sawah Rakyat dan alsintan dari Kementerian Pertanian telah membantu masyarakat adat meningkatkan kemampuan mengelola lahan secara modern dan lebih produktif.
“Pemerintah sudah membantu kami lewat CSR sekaligus membantu kami dalam bentuk alsintan. Dengan adanya bantuan alsintan ini, kami bisa mengelola 112 hektare itu. Saya terima itu dengan baik dan saya juga bersyukur dengan bantuan pemerintah,” katanya.
Program Cetak Sawah Rakyat menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat produksi pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Dengan lahan yang tetap dimiliki dan dikelola masyarakat, didukung mekanisasi, benih unggul, irigasi, dan teknologi modern, petani kini mampu meningkatkan produktivitas, memperluas peluang usaha, serta mewujudkan kemandirian pangan dari tanah mereka sendiri.(*)






