
Oleh: Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M.
TANAHAIRNEWS.COM – Setiap kemajuan teknologi selalu memunculkan dua reaksi yang berjalan beriringan: harapan dan ketakutan. Fenomena tersebut kembali hadir ketika dunia memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI). Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi, percepatan, dan kemungkinan-kemungkinan kreatif yang sebelumnya sulit dibayangkan. Di sisi lain, AI menimbulkan kekhawatiran akan berkurangnya peran manusia, termasuk dalam bidang seni, budaya, dan industri kreatif. Dalam dunia seni, AI kini mampu melukis, menggubah musik, menulis cerita, menerjemahkan bahasa, bahkan menciptakan karakter visual hanya dalam hitungan detik. Perkembangan ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah AI akan menggantikan seniman dan mengakhiri perjalanan panjang wayang Indonesia sebagai salah satu mahakarya budaya dunia?
Perdebatan mengenai kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) sesungguhnya bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan telah menjadi diskursus global yang melibatkan pemerintah, akademisi, industri, serta pelaku seni dan budaya. Dunia internasional tengah memasuki babak baru ketika AI berkembang menjadi teknologi transformatif yang memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, industri kreatif, hingga pelestarian warisan budaya. Dalam konteks tersebut, UNESCO bersama Pemerintah Indonesia telah menyelesaikan Artificial Intelligence Readiness Assessment Methodology (AI RAM), yang menempatkan Indonesia sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang mengimplementasikan metodologi UNESCO untuk mengukur kesiapan nasional dalam membangun tata kelola AI yang etis, inklusif, transparan, dan bertanggung jawab (UNESCO, 2024; United Nations Indonesia, 2024).
Penilaian tersebut merupakan implementasi dari UNESCO Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence (2021) yang telah diadopsi oleh 193 negara anggota UNESCO sebagai pedoman global pengembangan AI yang berpusat pada manusia (human-centered AI). Laporan AI RAM Indonesia menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan setiap bangsa membangun regulasi, memperkuat tata kelola, melindungi hak asasi manusia, menjaga keberagaman budaya, serta memastikan bahwa inovasi AI tetap selaras dengan nilai-nilai sosial, etika, dan kemanusiaan (UNESCO, 2024). Dengan demikian, AI bukanlah pengganti kebudayaan, melainkan instrumen yang harus diarahkan untuk memperkuat peradaban, memperluas akses terhadap pengetahuan, serta mendukung pelestarian identitas budaya bangsa secara berkelanjutan.
Kekhawatiran tersebut merupakan respons yang wajar. Namun, menurut pandangan saya, persoalan sesungguhnya bukan terletak pada kehadiran AI itu sendiri. Tantangan terbesar justru berada pada kemampuan manusia dan komunitas budaya untuk beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan identitas, nilai, dan jati dirinya. Sejarah peradaban telah menunjukkan bahwa setiap revolusi teknologi tidak pernah benar-benar mematikan seni. Mesin cetak tidak membunuh sastra, kamera tidak menghapus seni lukis, radio tidak menghilangkan pertunjukan musik, televisi tidak mematikan teater, dan film tidak menghapus keberadaan seni pertunjukan. Sebaliknya, setiap inovasi justru melahirkan ruang-ruang kreatif baru, memperluas cara manusia berkarya, sekaligus memperkaya medium ekspresi budaya.
Wayang sebagai warisan budaya adiluhung Indonesia pun berkembang melalui proses adaptasi yang panjang. Perjalanannya tidak pernah berhenti pada satu bentuk. Wayang tumbuh dari tradisi lisan menuju naskah tertulis, dari penerangan blencong menuju lampu listrik dan sistem pencahayaan modern (lighting system), dari panggung-panggung desa hingga ruang pertunjukan digital yang melintasi batas negara. Dengan demikian, perubahan bukanlah ancaman bagi wayang, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah kehidupannya. Yang harus dijaga bukan semata-mata bentuk pertunjukan, melainkan nilai-nilai filosofis, etika, spiritualitas, kearifan lokal, dan pesan kemanusiaan yang diwariskan melalui setiap lakon, tokoh, dan dialog wayang.
Perspektif tersebut sejalan dengan arah kebijakan UNESCO yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. UNESCO menegaskan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber daya strategis yang mampu memperkuat identitas masyarakat, meningkatkan daya saing destinasi, memperluas ekonomi kreatif, serta menciptakan kesejahteraan melalui pariwisata budaya yang berkelanjutan.
Urgensi persoalan ini semakin nyata ketika dunia memasuki gelombang Revolusi Industri 4.0 yang bergerak menuju Society 5.0. AI diproyeksikan menjadi salah satu teknologi paling berpengaruh terhadap cara manusia belajar, bekerja, berkreasi, dan berinteraksi. Dalam situasi tersebut, kebudayaan tidak dapat lagi diposisikan sebagai sektor pelengkap pembangunan, melainkan sebagai fondasi yang memberi arah bagi pemanfaatan teknologi. Bangsa yang gagal mengintegrasikan kemajuan teknologi dengan kekuatan budayanya berisiko kehilangan identitas, daya saing, sekaligus kedaulatan budayanya di tengah arus globalisasi digital.
Di sisi lain, sektor ekonomi kreatif telah menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui kontribusi berbagai subsektor seperti seni pertunjukan, kriya, desain, musik, film, kuliner, fesyen, dan aplikasi digital. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan bukan hanya memiliki nilai simbolik, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat UMKM, dan memperluas daya saing bangsa di tingkat global. Karena itu, adaptasi wayang terhadap AI tidak semata-mata berbicara mengenai pelestarian budaya, tetapi juga mengenai strategi pembangunan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Atas dasar itulah saya meyakini bahwa AI bukan ancaman bagi wayang. Sebaliknya, AI dapat menjadi instrumen strategis untuk memperluas kreativitas, memperkuat pelestarian budaya, mempercepat proses dokumentasi dan digitalisasi, meningkatkan kualitas edukasi, memperluas akses generasi muda terhadap warisan budaya, serta membuka ruang baru bagi diplomasi budaya Indonesia di tingkat global. Teknologi hanya akan menjadi ancaman apabila manusia kehilangan orientasi nilai dan menjadikan teknologi sebagai tujuan akhir. Sebaliknya, ketika perkembangan teknologi dipandu oleh nilai-nilai budaya, etika, dan kemanusiaan, maka teknologi akan menjadi kekuatan yang memperkokoh peradaban serta memperluas manfaat budaya bagi masyarakat.
Pandangan ini juga semakin relevan karena UNESCO dalam berbagai kajian mutakhir mengenai AI dan kebudayaan menegaskan bahwa tantangan terbesar bukanlah bagaimana membuat AI semakin cerdas, melainkan bagaimana memastikan AI tetap menghormati keberagaman budaya, hak-hak kreator, kedaulatan budaya, serta menjaga kreativitas manusia sebagai pusat inovasi. Dengan demikian, AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti kebudayaan, tetapi sebagai instrumen yang memperkuat ekosistem budaya yang hidup.
Wayang merupakan salah satu mahakarya budaya Indonesia yang telah memperoleh pengakuan dunia melalui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Pengakuan tersebut bukanlah akhir dari proses pelestarian, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memastikan bahwa wayang tetap hidup, berkembang, dan mampu diwariskan kepada generasi mendatang melalui pendekatan yang inovatif, adaptif, kolaboratif, implementatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Pengakuan UNESCO terhadap wayang sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan merupakan pengakuan atas nilai universal yang dimiliki Indonesia. Namun, pengakuan internasional tersebut tidak secara otomatis menjamin keberlangsungan wayang. Keberlanjutan sebuah warisan budaya sangat ditentukan oleh kemampuan generasi penerus untuk menghidupkannya dalam ruang sosial yang terus berubah. Oleh karena itu, inovasi bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan agar wayang tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.
Pandangan tersebut tidak lahir semata-mata dari refleksi teoritis, melainkan berangkat dari pengalaman empiris saya selama mengembangkan Wayang Ajen di berbagai daerah di Indonesia maupun dalam berbagai forum internasional. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat dunia sesungguhnya tidak menolak tradisi. Yang mereka apresiasi adalah tradisi yang mampu berdialog dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya. Wayang diterima bukan karena diposisikan sebagai artefak masa lalu yang hanya layak dikenang, melainkan karena mampu menghadirkan nilai-nilai universal yang relevan dengan tantangan kehidupan manusia masa kini. Tradisi akan tetap hidup apabila memiliki kemampuan untuk bertransformasi, berinovasi, beradaptasi, berkolaborasi dan membangun komunikasi lintas generasi, lintas budaya, bahkan lintas teknologi.
Dalam konteks inilah saya menawarkan sebuah gagasan kebaruan melalui pengembangan Spirit Sapta Ajen sebagai model konseptual adaptasi seni tradisi terhadap perkembangan kecerdasan buatan. Nilai kebaruannya tidak terletak pada penggunaan AI sebagai perangkat teknologi semata, melainkan pada integrasi antara inovasi digital dengan sistem nilai budaya yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Spirit Sapta Ajen dibangun di atas tujuh nilai utama, yaitu Nilai Spiritual, Nilai Budaya, Nilai Kreatif, Nilai Ekonomi, Nilai Informasi, Nilai Komitmen, dan Nilai Keberlanjutan. Ketujuh nilai tersebut menjadi kompas etik yang memastikan bahwa pemanfaatan AI tetap berpijak pada martabat manusia, pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi kreatif, penguatan literasi informasi, konsistensi komitmen berkesenian, serta keberlanjutan ekosistem budaya. Dengan demikian, AI tidak menggantikan peran manusia sebagai seniman, melainkan memperkuat kapasitas manusia dalam menciptakan nilai tambah budaya yang relevan dengan perkembangan zaman.
Di sinilah letak kebaruan (novelty) gagasan yang saya tawarkan. Selama ini berbagai kajian mengenai AI dalam seni umumnya berfokus pada aspek teknologi, efisiensi produksi, atau kreativitas digital. Sebaliknya, Spirit Sapta Ajen menawarkan paradigma yang berbeda, yakni menempatkan AI dalam kerangka kebudayaan (culture-driven artificial intelligence). Dengan paradigma tersebut, teknologi tidak menjadi pusat perubahan, melainkan berada di bawah kepemimpinan nilai-nilai budaya. Spirit Sapta Ajen tidak hanya menjadi model adaptasi seni tradisi terhadap AI, tetapi juga menjadi kerangka etik yang menjaga agar transformasi digital tetap berorientasi pada kemanusiaan, pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi kreatif, dan pembangunan berkelanjutan.
Berbeda dengan berbagai pendekatan yang menempatkan AI sebagai pusat inovasi, Spirit Sapta Ajen justru membalik paradigma tersebut. Dalam konsep ini, budaya ditempatkan sebagai sumber nilai, manusia sebagai subjek pencipta makna, sedangkan AI berfungsi sebagai instrumen yang memperkuat proses kreatif. Paradigma inilah yang membedakan Spirit Sapta Ajen dari berbagai model adaptasi teknologi dalam seni yang berkembang saat ini. Dengan demikian, Spirit Sapta Ajen tidak hanya menawarkan pendekatan teknis, tetapi juga menghadirkan paradigma etik dan filosofis mengenai hubungan antara manusia, teknologi, dan kebudayaan.
Tujuan utama pemikiran ini adalah menawarkan paradigma baru dalam pembangunan kebudayaan Indonesia, yaitu menjadikan AI sebagai mitra strategis bagi pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan budaya secara berkelanjutan. Gagasan ini diharapkan dapat menjadi referensi akademik sekaligus arah kebijakan bagi pemerintah, perguruan tinggi, komunitas budaya, pelaku industri kreatif, dan generasi muda dalam membangun ekosistem kebudayaan yang adaptif terhadap transformasi digital tanpa kehilangan identitas nasional. Lebih jauh lagi, pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat daya saing budaya Indonesia di tingkat internasional, memperluas diplomasi budaya, mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, membuka peluang kerja baru, memperkuat literasi budaya digital, serta memperkokoh ketahanan budaya sebagai bagian penting dari pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Apabila paradigma ini diimplementasikan secara konsisten, manfaatnya akan melampaui pelestarian seni pertunjukan. Wayang yang mampu beradaptasi dengan AI berpotensi memperluas diplomasi budaya Indonesia, memperkuat industri kreatif nasional, meningkatkan literasi budaya generasi muda, memperkaya konten pendidikan berbasis budaya, memperluas pasar ekonomi kreatif digital, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban budaya dunia. Dalam jangka panjang, pendekatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada aspek pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, inovasi, kota berkelanjutan, serta kemitraan global.
Implementasi paradigma ini berpotensi menghasilkan dampak yang lebih luas, yaitu memperkuat diplomasi budaya Indonesia, meningkatkan kualitas pendidikan berbasis budaya, mempercepat digitalisasi warisan budaya, memperluas pasar industri kreatif, memperkokoh ekosistem ekonomi budaya, serta membuka peluang lahirnya inovasi-inovasi baru yang tetap berakar pada kearifan lokal. Dalam perspektif pembangunan nasional, pendekatan tersebut juga berkontribusi terhadap penguatan ketahanan budaya sebagai salah satu pilar penting menuju Indonesia Emas 2045.
Pada akhirnya, sejarah selalu membuktikan bahwa yang bertahan bukanlah teknologi yang paling canggih, melainkan peradaban yang mampu memadukan inovasi dengan nilai – nilai kemanusiaan. AI mungkin mampu menciptakan gambar wayang, menyusun lakon, bahkan menghasilkan animasi yang memukau dalam hitungan detik. Namun, AI tidak akan pernah mampu menggantikan kebijaksanaan, spiritualitas, pengalaman batin, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan melalui seorang dalang kepada masyarakatnya. Di situlah esensi Spirit Sapta Ajen menemukan relevansi sekaligus urgensinya: menjadikan teknologi sebagai instrumen, budaya sebagai kompas moral, kreativitas sebagai penggerak inovasi, dan manusia sebagai penjaga ruh peradaban. Masa depan wayang bukanlah memilih antara tradisi atau teknologi, melainkan membangun harmoni keduanya agar kebudayaan Indonesia tetap hidup, berdaya saing, dan memberi inspirasi bagi peradaban dunia di era kecerdasan buatan.
Oleh sebab itu, tantangan terbesar bangsa ini bukanlah bagaimana menciptakan AI yang semakin pintar, melainkan bagaimana membangun manusia yang semakin arif dalam memanfaatkan AI. Sebab pada akhirnya, masa depan wayang, masa depan kebudayaan Indonesia, bahkan masa depan peradaban bangsa, akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita menjadikan teknologi sebagai sahabat kebudayaan, bukan penggantinya. Ketika kecerdasan buatan berpadu dengan kecerdasan budaya, saat itulah Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi rujukan dunia dalam membangun peradaban yang berakar pada nilai, berorientasi pada kemanusiaan, dan berkelanjutan.
**Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung.
Pendiri dan Pengasuh Sanggar Seni Wayang Ajen Diversity Kota Bekasi, serta penggagas Wayang Ajen sebagai model inovasi seni pertunjukan berbasis budaya, pendidikan, dan teknologi kreatif.







