
TANAHAIRNEWS.COM, Mataram – Gempa bumi tidak hanya menjadi persoalan kekuatan alam, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam menghadapi risiko. Di kawasan urban Kota Mataram, perempuan menghadapi tantangan khusus dalam situasi bencana, mulai dari akses informasi, tanggung jawab keluarga, hingga keterbatasan dalam proses pemulihan.
Melihat kondisi tersebut, Tim Pengabdian Program Studi Hubungan Internasional Universitas Mataram (Unram) bersama Komunitas Solidaritas Perempuan (SP) Mataram menggelar workshop pemberdayaan perempuan untuk memperkuat kesiapsiagaan gempa bumi berbasis komunitas.
Program bertajuk “Pemberdayaan Gender dalam Pengurangan Risiko Bencana: Membangun Ketahanan Gempa Bumi di Kawasan Urban Kota Mataram” ini dilaksanakan di kawasan Kecamatan Ampenan. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan dalam memahami risiko bencana, melakukan evakuasi mandiri, serta memperkuat ketahanan komunitas perkotaan.
Mengatasi Kerentanan Berbasis Gender
Kecamatan Ampenan dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki karakteristik kawasan pesisir urban dengan permukiman padat, gang sempit, dan keterbatasan ruang terbuka. Kondisi tersebut meningkatkan tantangan ketika masyarakat harus melakukan evakuasi saat terjadi bencana.
Kota Mataram sendiri memiliki risiko gempa akibat aktivitas sesar aktif dan potensi ancaman tsunami di wilayah pesisir.
Tim pengabdian menekankan bahwa risiko bencana tidak berdampak sama terhadap semua kelompok masyarakat. Perempuan dapat menghadapi hambatan berbeda, seperti keterbatasan akses terhadap sistem peringatan dini, beban pengasuhan anak dan anggota keluarga rentan saat evakuasi, serta keterbatasan akses terhadap aset ekonomi pascabencana.
Namun, perempuan juga memiliki potensi besar dalam membangun kesiapsiagaan komunitas melalui jaringan sosial yang telah berkembang di masyarakat. Jejaring tersebut dapat menjadi modal dalam penguatan komunikasi risiko dan kepemimpinan mitigasi berbasis komunitas.
Workshop Berbasis Kebutuhan Masyarakat
Kegiatan menggunakan pendekatan Gender-Responsive Participatory Action Learning (GR-PAL) yang menempatkan masyarakat sebagai bagian aktif dalam proses pembelajaran. Program dilakukan melalui tiga tahap, yaitu konsolidasi awal dan pre-test, workshop penguatan peran perempuan, serta post-test dan simulasi evakuasi lapangan.
Sebelum workshop, tim melakukan pemetaan kondisi awal terhadap 25 peserta melalui diskusi kelompok terarah dan pre-test. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta telah memiliki pengetahuan dasar kebencanaan yang cukup baik dengan skor sekitar 89 persen. Namun, kesiapsiagaan praktis keluarga masih rendah, yaitu sekitar 35 persen.
Kesenjangan tersebut menjadi dasar penyusunan materi workshop, terutama mengenai tas siaga bencana, prosedur evakuasi, jalur penyelamatan, serta peran perempuan dalam pengurangan risiko bencana.
Simulasi Evakuasi Tingkatkan Kesiapan
Selain pembekalan materi, peserta mengikuti simulasi evakuasi gempa bumi di Kelurahan Bintaro. Peserta berlatih menuju titik kumpul, memahami prosedur komunikasi darurat, dan melakukan pendataan anggota keluarga dalam kondisi bencana.
Simulasi juga menemukan sejumlah tantangan, seperti potensi kepadatan jalur evakuasi apabila masyarakat menggunakan kendaraan secara bersamaan. Karena itu, kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas perlu menjadi prioritas dalam perencanaan evakuasi.
Pengetahuan Berubah Menjadi Tindakan
Evaluasi kegiatan menunjukkan peningkatan kapasitas peserta setelah mengikuti workshop. Hasil post-test menunjukkan skor rata-rata keseluruhan mencapai sekitar 95 persen. Pada aspek kesiapsiagaan praktis keluarga dan komunitas, skor meningkat dari sekitar 35 persen menjadi sekitar 91 persen.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pelatihan berbasis kebutuhan lokal membantu perempuan menerapkan pengetahuan kebencanaan dalam tindakan nyata, seperti mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, menyiapkan tas siaga, dan memahami prosedur keselamatan keluarga.
Program ini menunjukkan bahwa pengurangan risiko bencana membutuhkan pendekatan yang melibatkan masyarakat secara aktif. Perempuan tidak hanya menjadi kelompok yang perlu dilindungi, tetapi juga menjadi aktor penting dalam membangun ketahanan keluarga dan komunitas.
Melalui model konsolidasi, intervensi, dan evaluasi yang berkelanjutan, kegiatan pengabdian Prodi HI Unram bersama SP Mataram memberikan contoh bahwa kesiapsiagaan bencana dapat diperkuat melalui pemberdayaan masyarakat yang responsif gender.(*)






